Fraksi PDIP Condong Kepada Ahmat Heryawan : Mayoritas Anggota DPRD DKI Jakarta Tolak Mardani Gantikan Wakil Gubernur Sandiaga

 

Fraksi PDIP Condong Kepada Ahmat Heryawan : Mayoritas Anggota DPRD DKI Jakarta Tolak Mardani Gantikan Wakil Gubernur Sandiaga


Fraksi PDIP Condong Kepada Ahmat Heryawan :
Mayoritas Anggota DPRD DKI Jakarta Tolak Mardani Gantikan Wakil Gubernur Sandiaga

Jakarta, SI
Sampai saat ini posisi yang telah ditinggalkan oleh Sandiaga Salahudin  Uno di pemerintahan Provinsi DKI Jakarta masih kosong. Posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta itu belum juga terisi. Pasalnya, di antara partai-partai pengusung Anies - Sandiaga, yakni Gerindra dan PKS juga saling kunci. Bagi Gerindra, karena Sandiaga adalah kadernya, maka kader Gerindra lah yang berhak untuk menggantikan posisi Sandiaga Uno . Sedangkan bagi PKS, yang merasa sudah berkorban dengan merelakan posisi cawapres Prabowo buat Sandiaga, mengklaim bahwa pengganti Sandiaga harus dari PKS. Sementara Anies juga terkesan lepas tangan dan membiarkan partai-partai yang mengurus masalah ini. Padahal jika Anies menegaskan dia mau jadi kader Gerindra, maka jelas lah PKS bisa langsung mengklaim jabatan wakil gubernur. Namun nampaknya Anies masih menghindari afiliasi dengan partai politik manapun. Mungkin dia punya ambisi sendiri di masa mendatang. Demikian  dilansir dari laman Seword, baru,baru beberapa waktu lalu.
Padahal posisi wakil gubernur ini hendaknya tidak dibiarkan kosong terlalu lama. Menurut pengamat politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, kekosongan jabatan wagub akan berpengaruh terhadap kinerja pemerintahan di DKI. Sebab, secara otomatis pemerintahan hanya dilakukan Anies sendiri. Kepemimpinan Anies seorang diri, menurut Ubedilah akan berdampak pada tidak efektifnya roda pemerintahan. "Ada kekurangan untuk mengambil keputusan," kata Ubedilah. Jika hanya memimpin seorang diri, Anies tak memiliki partner untuk ikut memberikan pertimbangan sebelum membuat sebuah keputusan ataupun kebijakan. "Pak Anies membutuhkan wakil untuk mengambil keputusan lebih tepat dan lebih ada pertimbangan, ada pembagian tugas juga," tuturnya.Ternyata dalam aturan tidak diatur soal masa tenggat pengisian jabatan wakil gubernur. Sehingga semuanya kembali berpulang pada sikap Gerindra dan PKS. Ubedilah pun mengimbau DPRD DKI tak mengulur-ulur untuk menetapkan siapa yang mengisi jabatan wakil gubernur tersebut. Sebab, jika DPRD DKI mengulur waktu justru akan merusak etika politik di Indonesia.
Memang ada indikasi bahwa Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra, Muhammad Taufik adalah calon kuat dari Gerindra untuk diajukan sebagai pengganti Sandiaga. Ini terlihat juga dari rajinnya Taufik melobi berbagai fraksi di DPRD DKI Jakarta. Bahkan Taufik juga terlihat berusaha mendekati Anies. Pada saat salat Idul Adha minggu lalu di halaman Balai Kota, Taufik adalah satu-satunya anggota DPRD yang terlihat salat berjamaah bersama Anies. Usai salat, Anies dan Taufik terlihat hanya mengobrol berdua di antara jemaah lain yang sibuk mempersiapkan prosesi pemotongan hewan kurban.
Lalu bagaimana dengan PKS? Sejak awal PKS sudah mengklaim posisi esk Sandiaga itu. "Tentu dari PKS memberikan posisi wakil presiden (kepada Sandiaga). Tentu mereka memberikan hak prioritas kepada PKS untuk menjadi wagub," kata Presiden PKS Sohibul Iman kepada awak media pada 10 Agustus lalu, usai pendaftaran capres/cawapres di KPU. Juga beredar berita tentang sebuah surat “transaksi politik” memberikan kursi wakil gubernur kepada PKS, yang ditandatangani oleh Taufik. Namun akhirnya disebut tidak sah oleh Taufik sendiri. Kubu PKS sendiri belum satu suara mengusung nama tunggal. Nama-nama yang diusulkan termasuk Mardani Ali Sera, Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Nurmansjah Lubis, Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana dan eks Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu, serta Ahmad Heryawan (Aher).
Bicara tentang Mardani Ali Sera, namanya terdengar lebih populer di telinga masyarakat. Mungkin karena gerakan #2019GantiPresiden yang digagasnya makin banyak mengalami protes dan penolakan di mana-mana. Mardani sendiri sudah menyatakan kesiapannya jika ditunjuk oleh PKS untuk menggantikan Sandiaga. Dalam sejarahnya, Mardani pernah “mengalah” buat Anies Baswedan, ketika dulu dia batal maju dalam Pilgub DKI Jakarta berpasangan dengan Sandiaga. Waktu itu, karena akhirnya Anies Baswedan yang maju, maka Mardani harus rela mundur.
Namun ada hal yang mengejutkan terkait dengan kemungkinan ditunjuknya Mardani ini.. Sementara nama Aher mendapat penilaian cukup baik dari Fraksi PDIP, karena Aher dianggap berpengalaman baik di bidang eksekutif maupun legislatif. Sedangkan Mardani justru mendapat komentar jelek. Anggota Fraksi Hanura DPRD DKI Muhammad Guntur mengungkapkan bahwa mayoritas Fraksi DPRD DKI menolak nama Mardani Ali Sera untuk menggantikan posisi Wakil Gubernur DKI. Guntur mengaku, bahwa lintas Fraksi di Kebon Sirih telah berembuk menanggapi Mardani yang santer bakal diajukan DPP PKS ke Partai Gerindra. “Mayoritas Fraksi di DPRD DKI menolak Mardani Ali Sera. Kami sudah berkomunikasi dengan lintas Fraksi. Teman-teman menolak keras, karena merasa Mardani tidak pantas. Mardani dianggap terlalu kasar,” kata Guntur.
Wah, paiiit pait! Apes nih. Berasa gimanaa gitu ya. Sudah gerakan ganti presidennya ditolak di mana-mana. Dia pun ditolak oleh para wakil rakyat Jakarta.(seword/tamba/red)