Sikapnya Tertutup dan Cari Aman Sendiri : Sebaiknya Sekda Kota Depok drg.Hardiyono Segera Mengundurkan Diri Dari Jabatannya

 

Sikapnya Tertutup dan Cari Aman Sendiri : Sebaiknya Sekda Kota Depok drg.Hardiyono Segera Mengundurkan Diri Dari Jabatannya


Sikapnya Tertutup dan Cari Aman Sendiri :
Sebaiknya Sekda Kota Depok drg.Hardiyono Segera Mengundurkan Diri Dari Jabatannya

Depok, SI
Gonjanng-ganjing terkait adanya kasus korupsi Jalan Nangka proyek pembebasalah lahan Jalan Nangka oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, yang merugikan keuangan negara kurang lebiih sebesar Rp.23 Miliar tesebut, kini menjadi bola liar dikalangan ASN Pemkot Depok. sebab siapa saja pun orangnya  bisa kena sasar oleh dahsyatnya pengaruh pemberitaan di Media Massa  terkait kasus korupsi mantan Walikota Depok Nur Mahmudi Isamil saat itu, yang diduga menilep uang APBD Kota Depok tahun 2015 dan 2016 tersebut.
Termasuk drg Hardiyono pada saat proses perencaaan pembebasan lahan  Jalan Nangka tersebut terjadi pada tahun 2015 lalu, dimana posisi daripada Hardiyono ketika itu menjabat sebagai Kepala Badan Perencaaan dan Pembangunann (Bappeda) Kota Depok.
Dengan demikian berbagai elemen dan LSM Kota Depok berarumsi, bahhwa Kepala Bapeda saat itu dengan jelas mengetahui proses proyek lelebaran jalan Nagka itu. Sebab pihak penyidik Tipikor Pores Depok dalam menjerat Nur Mahmudi Ismail dan Harry Priihanto terkait kasus korupsi tersebut dalam menetapkan tersangka yakni terkait  dimulai dari kasus perencanaan. Makanya Hardiyoni selaku Kepala Bapeda saat itu harus bisa menjelaskan itu kepada publik, mantan Kepala Bappeda Kota Depoktersebut harus taransparan kepada warga depok, karena hal itu menyangkut uang rakyat.
Saat ini posisi daripada Hardiyono adalah merupakan Sekda Kota Depok, namun kini sikap daripada Hardiyono sangat tertutup, siapapun yang hendak melakukan konfrimasi terkait kasus Jalan nangka itu kepaa dirinya, selalu dijawab stafnya , bahwa Sekda sedang ada rapat atau sedang keluar kota, jawab beberapa staf sekda. Bahkan pintu ruangan hendak masuke ruangan sekda saat ini dijagadengan berlapis-lapis dengan pintu elektronik
Akibat dari sikap ketertutupan daripada Sekda Kota Depok tesebut, akhirnya kalangan LSM di Kota Depok buka bicara, terkait proses peengankatan daripada Hardiyono menjadi Sekda Kota Depok ketika itu, dengan dalih awalnya  dari proses Lelang Jabatan (Open Bidding), hingga menjadi proses pemilihan. Hal itu terjadi akaibta  begitu kencangnya tekanan dari DPP PKS kepada Walikota Depok  untuk menggoolkan agar Hardiyono ditetapkan menjadi Sekda Kota Depok, ujar beberapa sumbet di DDPRD Kota Depoek baru-baru ini
Maka akibat kasus korupsi dua orang pejabat Elit Kota Depok yaitu Nur Mahmudi Ismail dan Harry Prihanto, kini goncangan angin Mamiri semakin dasyat dan bertudi-tubi datangnya kepadda kalangan orang-orang dekat Nur Mahmudi Ismail ketika dirinya masih menjabat, yakni dengan melakukan pejabat-pejabat karbitan dari luar kota depok, termasuk Hardiyono, yang tadinya merupakan pejabat di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, kemudian jelang masa kerja kurang lebih 10 tahun, Hardiyono langsung menjabat Sekda Kota Depok. Ketika itu Walikota Depok KH M Somad Idris sama sekali tidak berdaya akibat dugaan tekanan dari DPP PKS, konon katanya sebab istri daripda Hardiyono jug merupakan pengurus dari PKS itu sendiri.
Sementara itu pula publik di Kota Depok beranggaan sebaiknya Hardiyono selaku Sekda Kota Depok segera mengundurkan dii saja, apalagi dengan cara saat ini dirinya menutup diri. Siapapun tidak bisa masuk untuk konfirmasi dalam  menjelaskan keterkaitan dirinya dengan proyek Pembebasan Lahan Jalan Nangka, yang waktunya sebentar lagi akan di disidangkan di PN Tipikor Bandung
Posisi Hardiyono harusnya selaku pejabat nomor 3 di Kota Depok, bisa menjelaskan  atau atau menjembati permasalahan yang ada di Kota Depok. Sebab dengan sikap tertutupmya Sekda Kota Deok itu, akibantnya semua permasalahan langsung tertumpah kepada Walikota Depok, hal itu sangat berbahaya, sebab kalau semuanya ditanganai oleh Walikota Depok, tentu akan menjadi boomerang, sama saja hal itu tidak membantu Walikota Depok dalam bekerja, ujar sumber itu.(ifan/dipred)